Rabu, 27 Desember 2017

Menyusur Aliran Lau Mentar

Lau Mentar Siang itu cuaca di kecamatan STM Hulu, Kabupaten Deli Serdang tak cukup bersahabat. Rintik hujan konsisten membasahi j... thumbnail 1 summary
Lau Mentar
Siang itu cuaca di kecamatan STM Hulu, Kabupaten Deli Serdang tak cukup bersahabat. Rintik hujan konsisten membasahi jalan terjal dari tanah liat yang berbatu. Satu paduan sempurna dalam menciptakan kubangan lumpur yang bisa bikin ban sepeda motor ‘nyangkut’ dan ‘gempar’. Setelah melewati 4 kilo meter yang sungguh aduhai, kami akhirnya tiba di Desa Rumah Liang.

Sepeda motor pun diparkirkan disamping warung berdinding papan. Didalam terlihat beberapa pemuda sedang bermain kartu. Sebagian lagi asik menyodok bola diatas meja biliar yang diletakan persis di teras warung. Tatapan-tatapan tajam mengiringi langkah kami yang berjalan memasuki warung. Sembari duduk dikursi panjang berbahan kayu, kopi pun dipesan. Seorang pemuda yang sejak tadi memperhatikan gerak gerik kami lantas bertanya, “orang abang dari mana dan mau kemana?”. Pertanyaan bernada interogasi tersebut akhirnya memulai pembicaraan tentang Lau Mentar. Sebuah surga tersembunyi di ujung STM Hulu.

Beliau ternyata ketua Karang Taruna di Desa Rumah Liang. Selain sebagai wadah pengembangan generasi muda, karang taruna sekaligus berfungsi sebagai pengelola objek wisata Lau Mentar. Para pemuda lokal diorganisir menjadi pemadu (guide). Penghasilan dari tiket dipakai untuk membayar jasa pemandu, sebagian lagi disisihkan untuk uang kas organisasi. Jika hari libur, tiket khusus diberlakukan bagi para pengunjung. Harga bervariasi mulai dari 10 ribu hingga 20 ribu rupiah, tergantung paket pilihan.

Ada tiga paket yang ditawarkan, Pertama Paket A, meliputi air terjun dan pemandian. Jaraknya sekitar 30 Menit perjalanan. Paket B, Meliputi air Terjun, Curug dan Lau Mentar Canyon. Jaraknya sekitar 1 Jam Perjalanan. Terakhir, Paket C, paket lengkap yang waktu tempuhnya sekitar 2 Jam perjalanan meliputi Air Terjun, Curug, Canyon dan Goa-goa bentukan alam.

Setelah berdiskusi panjang lebar, seorang pemandu bernama  Rudolf Tarigan alias Rudi diminta untuk mengantarkan kami ketujuan. Saat itu jam menunjukan pukul 13.30 WIB, masih rasional menjatuhkan pilihan C untuk menikmati paket lengkap menyusur Lau Mentar yang katanya eksotis. Untuk paket C, rute sedikit berbeda. Dari yang paling jauh (Goa) baru kemudian menyusuri tepian sungai sampai ke air terjun dan pemandian (paling dekat dari perkampungan).

Bersama Rudolf, kami berjalan meninggalkan warung selangkah demi selangkah. Sembari berjalan kaki melewati perladangan warga, ia bercerita soal kehidupan pribadi dan pengalamannya selama jadi pemandu. Mulai dari persoalan goib hingga orang tenggelam. Mulai dari cerita upah bekerja hingga urusan ganti nama menjadi Rudi. Setengah jam berjalan, napas mulai terasa ngos-ngosan. Setelah beberapa kali trek menanjak, rute yang dihadapi kali ini lumayan curam dan menurun. Rudolf berjalan anteng didepan, cukup jauh meninggalkan saya di posisi paling belakang.

Gemercik air mulai terdengar ditelinga, pertanda aliran sungai tepat berada dibawah jurang yang sedang dituruni. Benar saja, sesampainya dibawah, sungai jernih berwarna putih kebiruan telah menyambut. Ya, inilah Lau Mentar. Warna putih kebiruan Lau Mentar di dapat dari gabungan dua mata air  (panas dan dingin) yang ada di hulu sungai. Itu pula yang menyebabkan mengapa suhu Lau Mentar tak begitu dingin. Kami beristirahat sejenak, menegak air mium, mencuci muka dan menyalakan sebatang rokok sambil mendengar cerita Rudolf tentang lokasi Goa yang tidak jauh dari tempat kami sekarang berhenti.

Merasa cukup beristirahat, kami melanjutkan perjalanan menuju Goa. Menyebrangi aliran sungai dengan bebatuan yang terkadang amat licin. Terpeleset merupakan ritual wajib saat melaluinya. Goa yang menjadi tujuan kami adalah sebuah lubang bentukan alam yang dulunya dijadikan persembunyian para pejuang kemerdekaan saat perang griliya mengusir penjajah. Sebuah jawaban mengapa Desa ini dinamai Desa Rumah Liang, yang artinya Rumah Lubang.


Setelah puas mengeksplorasi goa dan cerita dibaliknya, kami balik arah menuju lokasi yang dinamai Lau Mentar Canyon. Rutenya menyusur aliran sungai, melintasi bebatuan licin dan terkadang harus mendaki perbukitan karena terdapat lubuk-lubuk berair dalam. Hujan semakin menjadi kala itu, namun semangat melepas kerinduan setelah lama vakum berpetualang memicu tekad semakin bulat.


Rudolf masih anteng berjalan jauh didepan. Meskipun sudah berjalan sekitar 2 jam, langkah kakinya tetap lincah menapaki bebatuan dan menyebrangi arus sungai. Sedangkan kami  mulai tertatih dengan jenis problem masing-masing. Ada sepatu yang mulai menganga, ada kamera yang mulai dibasahi hujan, sampai tas yang rupanya masih berisi laptop, lupa ditinggalkan sebelum berpetualang. Sungguh hebat! Sampai di Canyon, kami berhenti untuk mengambil beberapa gambar. Rudolf membuka baju dan menunjukan aksinya terjun bebas dari atas tebing. Aksi yang kemudian di ikuti seorang teman yang memang sejak semula sangat ingin terjun bebas. Saya sendiri urung loncat. Deru nafas yang sudah ngos-ngosan plus pergelangan paha yang mulai kram membuahkan kesimpulan dibenak saya.”Jangan”.

Lau Mentar Canyon
Tidak begitu jauh dari Canyon, kami tiba di sebuah curug dengan stalaktit yang sungguh aduhai. Kami berhenti cukup lama dilokasi itu. Seperti biasa, menegak air mium dan membakar rokok. Rudolf pun seperti biasa, kembali bercerita soal beberapa fenomena goib, lebih spesifik di curug tersebut. Hujan belum juga reda, bahkan terasa lebih lebat. Jam ditangan menujukan pukul 16.30 WIB. Tinggal satu lokasi lagi yang belum kami singgahi untuk menuntaskan petualangan di Lau Mentar.

Kaki kembali dilangkahkan menyusur aliran Lau Mentar. Meskipun mulai terasa berat, petuah Rudolf yang menyatakan bahwa lokasi terakhir tak sampai setengah jam lagi ternyata mampu memupuk semangat. Terbayang pula rasa ingin berendam dialiran Lau Mentar sambil membasuh keringat dan membersihkan segala jenis lumpur yang melekat. Namun apa mau dikata, bak pribahasa: “Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak”. Baru sekitar 10 menit berjalan,  aliran air tiba-tiba berubah menjadi keruh. Rudolf memberi tanda bahwa kami harus segera menuju perbukitan, “air akan segera naik” begitu katanya. Dengan sisa tenaga, kaki mau tak mau dipaksa melangkah dua bahkan tiga kali lebih capat.

Melihat celah diantara sungai dan perbukitan, Rudolf memutuskan untuk menempuh jalur tersebut. Jalannya menanjak cukup ekstrim dengan semak-semak rapat pertanda jalur itu jarang dilalui. Rudolf tetap saja anteng berjalan jauh didepan, sedangkan saya hampir sampai pada titik ampun. Tapi apa boleh buat, bukankah nikmatnya berpetualang adalah saat kita mampu bertahan memacu potensi tubuh melampaui batas normalnya?

Sekitar 15 menit melalui rute yang dalam hemat saya kurang manusiawi, jalan mendatar mulai didapati. Rupanya kami sudah berada di areal perladangan warga, Sebuah pondok beratap pelepah nipah dijadikan lokasi peristirahatan. Ritual biasa pun dilakukan. Menegak air sembari membakar rokok. Hanya saja Rudolf kali ini tidak cerita persoalan goib, tapi berkisah soal naik nya volume debit air. Cukup beristirahat memulihkan stamina, kami bergegas melangkah menuju perkampungan.

Sayup-sayup suara kibot dan nyanyian puja puji kepada Tuhan mulai terdengar, maklum hari itu tanggal 25 Desember (Natal). Tak berselang lama, warung tempat sepeda motor diparkirkan, tempat para pemuda main kartu dan biliar, tempat kami bertemu Rudolf pertama kali, akhirnya didapati. Dengan langkah gontai kemudian masuk dan mengambil posisi duduk yang sama saat pertama kali datang. Sejurus kemudian, Indomie kuah dan teh manis hangat segera dipesan. Waktu telah menunjukan Pukul 17.30 WIB. Sontak saja saya mengingat trek basah yang harus dilalui untuk pulang Ke Kota Medan dengan durasi waktu 3 Jam. Perasaan yang mampu mengubah segelas teh manis hangat menjadi teh pahit dingin.

Ya, begitulah. Meskipun tak tuntas menyusuri semua destinasi di Lau Mentar, hasrat rindu untuk jalan-jalan akhirnya terlampiaskan. Hmm, barangkali alam sedang berkompromi agar saya bisa kembali menyusur Lau Mentar secara komplit, dilain waktu, dilain kesempatan. 

Tidak ada komentar

Posting Komentar