Sabtu, 18 November 2017

Kecamatan Natal, Surga Bahari Dan Ekspansi Perkebunan Sawit

Senja Di Pantai Barat Natal Sejak Maret 2016, hampir setiap bulan saya rutin mengunjungi Natal. Artinya, saat tulisan ini dibuat, k... thumbnail 1 summary
Senja Di Pantai Barat Natal
Sejak Maret 2016, hampir setiap bulan saya rutin mengunjungi Natal. Artinya, saat tulisan ini dibuat, kira-kira sudah lebih puluhan kali saya melakukan perjalanan bolak balik Medan-Natal. Perjalanan kesana sebenarnya dalam rangka kerja-kerja advokasi, lebih jelasnya terkait persoalan konflik antara masyarakat 4 Desa dengan PT RMM dan PT DIS yang hingga sekarang belum merealisasikan janji pembangunan kebun plasma untuk masyarakat. Namun Natal tidak melulu soal maraknya pembangunan arus besar perkebunan, jauh sebelum sawit berdiri disepanjang pantai barat, Natal sudah dikenal sebagai kawasan pesisir yang kaya hasil lautnya. Selain itu tentu saja tentang keindahan pantai yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia.

Pantai Natal tentu menjadi satu spot yang tidak boleh dilewatkan jika bertandang ke Ujung Barat Sumatera Utara Ini. Hamparan pasir pantai yang luas dengan derretan pohon cemara dan pemandangan yang masih indah jadi daya tarik. Karena berada di sepanjang pantai Barat, hampir setiap Desa di kecamatan Natal mempunyai sebutan sendiri untuk menyebut pantai-pantai di tepian desanya. Pantai Kavling atau panti Buburan misalnya, terletak di desa Buburan Kecamatan Natal. Kecamatan Natal juga memiliki beberapa Pulau-pulau yang masih perawan. Sebut saja pulau Ungeh, Karo, Ingawan dan lainnya. Zona perairan di sekitar pulau tersebut merupakan surga bagi para pemancing. Jika beruntung, Pengunjung juga dapat menyaksikan parade lumba-lumba yang berenang persis di samping perahu anda. Yang paling berkesan tentu menyaksikan indahnya matahari tenggelam di ufuk barat. Sambil menikmati kelapa muda dan bersenda gurau bersama teman-teman, Natal selalu menghadirkan rindu untuk kembali.






Natal Juga kaya akan wisata sejarah religi, mengingat jejak islam di tanah natal sudah muncul sejak jaman awal perkembangan Islam. Pada abad ke-8 di daerah sekitar Natal telah berdiri Kerajaan Rana Nata dengan salah satu rajanya bernama Rajo Putieh atau biasa dipanggil Ranah Nata. Disebut-sebut, dia adalah orang Persia yang menyebarkan agama Islam di sana”. (Ahmad Arif/ (Harian Kompas edisi 16 Desember 2005). Salah satu ulama besar yang sangat berjasa mengembangkan Islam di wilayah Natal adalah Syekh Abdul Fatah bermarga Mardia (1765-1855). Ketika masih belia, Syekh Abdul Fatah tinggal di rumah Tuan Syekh Zainal Abidin memperdalam ajaran Islam dan tasawuf.  Syekh Abdul Fatah selanjutnya mengembangkan Islam bukan sja di mandailing, tetapi juga di Pantai Barat, khususnya Natal. Ulama ini memilih tempat membangun kediamannya di kawsan perbukitan kira-kira 2 kilo meter dari jaan raya Natal di titik Kampung Sawah saat ini.

Secara administratif Natal saat ini merupakan sebuah Kecamatan yang terdapat di Kabupaten Mandailing Natal. Berjarak sekitar 90 km dari ibukota kabupaten, Panyabungan. Jika ditempuh dari Kota Medan. Ada yang unik dari sejarah pemberian nama ‘Natal’. Dalam sebuah versi disebutkan kata natak berasal dari bangsa Portugis yang datang ke Pantai Barat. Ada pula yang menyebut kata Natal berasal dari ungkapan bahasa Mandailing:Nadatarida atau juga ada yang menyebut ungkapan bahasa Minangkabau: Tanah nan Data. Pendapat penyebutan kata “Natal” oleh bangsa portugis itu terkait ketika kedatangan mereka di sana untuk pertama kalinya, sekitar tahun 1492-1498 bersamaan dengan Hari Raya Natal.

Saat ini, Indentitas Natal sebagai kawasan pesisir dengan hasil laut sebagai sandaran hidup masyarakatnya perlahan mulai berganti. Sejak dekade 1990-an, ekpansi perkebunan khususnya sawit sudah merambah di sepanjang pantai barat natal. Hutan mangrove yang secara alamiah berfungsi mencegah abrasi telah berganti menjadi tanaman perkebunan. Wajar saat ini para nelayan mulai mengeluh tentang hasil laut yang tak lagi seperti dahulu. Para nelayan perlahan tergerus dan berpindah profesi menjadi buruh-buruh di perusahaan perkebunan.

Tidak ada komentar

Posting Komentar