Kamis, 30 Maret 2017

Suku Mante Ditengah Ancaman Efek Latah

Suku mante mendadak ramai dibicarakan. Pasalnya sekelompok anak motor yang sedang nge-trail dikawasan hutan Aceh mengupload video penem... thumbnail 1 summary

Suku mante mendadak ramai dibicarakan. Pasalnya sekelompok anak motor yang sedang nge-trail dikawasan hutan Aceh mengupload video penemuan sosok misterius (cirinya mirip suku mante) sedang berlari melintas di track yang mereka lalui. Tentu saja video tersebut menjadi viral, dalam waktu singkat sudah ditonton lebih dari 2 juta orang. Cerita Suku Mante memang unik, ahli sejarah maupun arkeologi meyakini suku ini adalah penduduk asli kawasan Aceh bersama suku lain seperti Lanun, Sakai, Jakun, Senoi dan Seman. Kesemuanya merupakan cikal bakal suku-suku yang ada di Aceh saat ini. Bahkan harian Kompas, 30 tahun lalu pernah mengulas soal suku mante, tepatnya pada edisi 18 Desember 1987. 

Terjadi silang pendapat antara para ahli tentang keberadaan suku mante. Sebagian mengatakan bahwa suku ini sudah punah, mengingat seluruh wilayah Aceh sekarang sudah terjamah oleh tangan manusia. Namun sebagian lagi meyakini bahwa suku mante masih hidup dengan bertempat tinggal di dalam gua sekitar hutan pedalaman daerah Aceh besar, Aceh Timur, hingga Aceh Tenggara. Sebagai catatan, Dr Snouck Hurgronje, yang pertama kali mengenalkan ke publik istilah "suku mante" melalui bukunya De Atjhers tidak pernah bertemu langsung dengan mereka. 

Unggahan Video yang kembali menunjukan eksistensi suku mante mau tidak mau telah jadi konsumsi publik, atau lebih spesifik netizen. Percayalah, efek latah dan sindrome ikut-ikutan di media sosial telah mempengaruhi ribuan bahkan jutaan orang untuk mengexplorasi keberadaan suku mante. Tanpa di bekali pemahaman utuh bahwa suku mante adalah kelompok manusia biasa, explorasi-explorasi "latah" ini hanya akan merusak ekosistem, lingkungan dan harmonisasi kehidupan suku mante yang sudah ada sejak 3000 tahun sebelum masehi (SM). Tak terbayangkan sekelompok anak "gaul masa kini", para pemburu selfie dan aktifis Instagram ramai-ramai menjamah hutan belantara di kawasan aceh. 

Menyikapi suku mante dan berbagai suku-suku pedalaman di bumi Nusantara ini haruslah dengan perspektif kearifan lokal. Pemerintah terkadang kerap memaksa menggunakan kacamata modern, salah satunya dengan melakukan pembinaan bagi suku-suku tersebut. Pandangan tentang relativisme budaya tidak membenarkan adanya anggapan bahwa kebudayaan itu memiliki klasifikasi (tinggi, rendah, baik, buruk) Hal ini karena tidak ada suatu ukuran yang paling tepat yang dapat dipakai untuk menilai tinggi rendahnya kebudayaan-kebudayaan yang ada, sehingga apa yang paling bijaksana adalah mengaitkan atau memakai ukuran-ukuran nilai yang hidup di masyarakat yang bersangkutan. Dengan demikian apa yang dianggap baik oleh suatu masyarakat jangan secara apriori diasumsikan akan dianggap baik pula oleh masyarakat atau masyarakat-masyarakat yang lain.

Intervensi yang berlebihan menggunakan kacamata modren ini justru menghasilkan resistensi yang besar, menyebabkan mereka semakin defensif atau justru membuat mereka tercerabut dari lingkungan tempat tinggalnya. Pola pikir bahwa manusia harus berprilaku, beraktifitas, berwarganegara, seperti kita tidak lantas menjadi legalisasi praktek-praktek intervensi. Pemerintah harusnya mengambil peran dalam menjaga ekosistem kawasan yang diduga didiami suku mante atau suku-suku pedalaman lainnya, agar kehidupan mereka tidak semakin terdesak, semakin sempit hingga berujung kepunahan. Sayang, peran vital itu justru tidak dilaksanakan secara maksimal.

Terlepas dari benar atau tidaknya (temuan) suku mante dikawasan hutan Pedalaman Aceh, semoga saja sindrom latah tanpa arah terkait pencarian suku mante tidak menjangkiti masyarakat luas. Selain demi dan atas nama ilmu pengetahuan yang berkontribusi positif bagi sejarah peradaban umat manusia (khususnya suku Aceh), hemat saya, tak perlu orang mante dicari, diburu, dikejar, dipaksakan berubah melalui program pendidikan pemerintah, bahkan dikapitalisasi layaknya barang dagangan. Biarkan mereka tumbuh dan hidup di alam ini sebagaimana mereka telah hidup ribuan tahun. Modern dan primitif hanya soal cara pandang. Dimata alam, tata kehidupan mereka justru jauh lebih beradab dari kita-kita yang mengaku manusia modern. Ya, hanya manusia modern yang tega merusak lingkungan dan eksositem demi upload foto di Instagram. 

Tidak ada komentar

Posting Komentar