Selasa, 02 Agustus 2016

Opiniku: Duka Sinabung Tanpa Ujung

Diawali dari letusan di tahun 2010, Sinabung yang sempat “tertidur” selama ratusan tahun hanya pernah kembali normal selama kurang lebih... thumbnail 1 summary

Diawali dari letusan di tahun 2010, Sinabung yang sempat “tertidur” selama ratusan tahun hanya pernah kembali normal selama kurang lebih 2 tahun, yakni ditahun 2011 - 2013 . Sejak akhir 2013 hingga saat ini bencana Sinabung seperti sebuah cerita bersambung dengan setiap episodenya menceritakan tentang nasib para pengungsi yang terkatung-katung

Memperhatikan kehidupan para pengungsi Sinabung sungguh sangat memprihatinkan. Bayangkan saja, sudah hampir dua tahun mereka akrab tidur di jambur , gereja dan berbagai tempat pengungsian. Anak - anak bersekolah dan mengerjakan pekerjaan rumah beralaskan lantai dengan cahaya seadanya . Lebih miris lagi , mereka kehilangan mata pencaharian utama sebagai petani karena lahan pertanian telah habis diterjang erupsi. Untuk menyambung kehidupan , banyak pengungsi yang dulunya berprofesi sebagai petani dengan lahan milik sendiri kini beralih sebagai buruh tani yang bekerja di lahan orang lain . Upah yang diterima tentu jauh dari penghasilan semula. Alhasil sebagian besar pengungsi Sinabung kini menggantungkan hidup dari bantuan -bantuan yang diberikan. Entah sampai kapan fenomena ini berlangsung. Badan vulkanologi sendiri belum bisa memastikan kapan erupsi Sinabung akan berakhir.

Menyikapi bencana Sinabung yang tidak kunjung usai , pemerintah baik lokal maupun nasional telah mengeluarkan kebijakan terhadap desa-desa dengan radius tiga kilometer agar direlokasi ke wilayah lebih aman. Adapun lokasi tersebut direncanakan berada di Kecamatan Merek , Kabupaten Karo yang berjarak puluhan kilometer dari Sinabung. Saat ini, pemerintah sudah membangun 370 rumah sebagai tempat relokasi para pengungsi yang desanya sudah luluh lantak diterjang awan panas .

Namun persoalan relokasi bukanlah semudah membalik telapak tangan. Upaya pemindahan sebuah desa ke lokasi baru perlu mempertimbangkan faktor antropologis dan sosiologis. Bicara relokasi tentu tidak bisa dilepaskan dari persoalan tanah ulayat masyarakat desa. Konsep magis religius yang tertanam erat bagi segenap penduduk desa bisa jadi penghalang dalam menjalankan alternatif solusi tersebut . Seperti pada umumnya masyarakat di desa- desa tradisional, ada tanggung jawab moral untuk mampu menjaga teritorial tanah ulayat desa sebagai warisan leluhur.

Belum lagi dari aspek ekonomi, dimana mayoritas masyarakat desa pasti kehilangan lahan pertanian milik mereka. Sedangkan seperti diketahui, sektor pertanian adalah penopang utama ekonomi keluarga masyarakat di kaki Gunung Sinabung. Ide merubah kegiatan ekonomi dari bertani menjadi berternak bisa menjadi solusi. Tapi sekali lagi, pemerintah harus jeli memperhatikan sisi-sisi kearifan lokal masyarakat.

Bergantinya sistem mata pencaharian penduduk mau tidak mau pasti mengakibatkan pergeseran sistem-sistem budaya yang telah tersusun rapi di dalam sebuah masyarakat. Oleh sebab itu, perlu pendekatan secara persuasif dengan mempertimbangkan kaca mata kearifan lokal dalam melaksanakan ide -ide tersebut. Pemerintah memang punya hak untuk mengeluarkan kebijakan - kebijakan yang sifatnya instruktif . Tapi jika tidak jeli membaca situasi dan persoalan, bisa jadi kebijakan itu justru menimbulkan resistensi dari masyarakat.

Bukan Bencana Nasional

Durasi waktu erupsi hingga bertahun -tahun dengan kerugian materil sampai milyaran rupiah ternyata tidak cukup menjadikan Sinabung sebagai bencana Nasional . Sebab menurut undang -undang No 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana , tepatnya Pasal 7 ( 2 ) menegaskan bahwa penetapan status dan tingkat bencana nasional memuat indikator jumlah korban, kerugian harta benda , kerusakan sarana dan prasarana , cakupan luas wilayah yang terkena bencana dan dampak sosial ekonomi yang ditimbulkan .

Adapun indikator suatu bencana dikatakan sebagai bencana nasional apabila jumlah korban lebih dari 500 orang , kerugian lebih dari Rp 1 triliun, mencakup beberapa Kabupaten /kota dan lebih dari satu provinsi , serta pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten tidak mampu lagi mengatasinya. Beberapa faktor seperti jumlah kerugian dan korban jiwa yang belum memenuhi standar indikator, pada akhirnya menyebabkan sinabung belum bisa dikategorikan sebagai bencana nasional. Padahal dilain pihak, panjangnya durasi bencana menyebabkan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan Pemerintah Kabupaten Karo seperti sudah nyaris “angkat tangan” dalam menyelesaikan persoalan Sinabung. Oleh sebab itu , Pemprov sendiri bahkan berulang kali mengusulkan agar erupsi Sinabung dapat dijadikan bencana nasional. Keinginan ini didasari atas keterbatasan APBD Provinsi Sumatera Utara dalam mengatasi dampak erupsi yang tidak kunjung selesai. Selain itu, bencana erupsi telah mengakibatkan pertumbuhan ekonomi Kabupaten Karo turun hingga 45 %. Hal ini berdampak terhadap mandegnya pembangunan di wilayah tersebut.

Walaupun penetapan status bencana (apakah itu lokal atau nasional) memiliki pengaruh dalam proses penanggulangan erupsi sinabung , namun persoalan itu bukanlah hal paling utama . Tujuan paling penting adalah bagaimana masyarakat yang terkena dampak erupsi sinabung dapat kembali beraktifitas seperti sedia kala meskipun kondisi Sinabung tidak kunjung membaik . Bagaimana pemerintah , baik lokal maupun nasional mampu memberi jaminan kepada para pengungsi agar tetap mampu menjalani hidup dan kehidupannya adalah capaian yang lebih konkret. Jangan sampai kedatangan para petinggi negeri ini untuk sekedar melihat - lihat korban sinabung bisa menghabiskan dana miliaran rupiah. Sedangkan para pengungsi sudah bertahun -tahun “dipaksa” tinggal hidup diatas terpal yang konon bila hujan bocor airnya. Keseriusan pemerintah untuk melaksanakan tindakan konkret buat Sinabung mutlak diperlukan. Sambil tentu terus berdoa agar Sinabung kembali ramah dan bersahabat bagi masyarakat disekitarnya.

Tulisan ini dimuat di kolom opini Harian Analisa Edisi Kamis, 17 September 2015. Mengalami proses editing tanpa mengubah susbstansi aslinya.

Tidak ada komentar

Posting Komentar