Pusuk Buhit, Mendaki Gunung Kramat Orang Batak


Mayoritas orang Batak pasti pernah mendengar kalau nenek moyang mereka diturunkan di Pusuk Buhit oleh Mulajadi Nabolon. Secara sederhana, Mulajadi na Bolon bisa diartikan sebagai dewa (debata) tertinggi yang menguasai tiga tingkat dunia. Bahkan sampai saat ini, ritual pemujaan terhadap Mulajadi na Bolon masih bisa kita temui dalam tradisi penganut kepercayaan Parmalim yang berpusat di Laguboti Kabupaten Toba Samosir. Saya sendiri sudah tiga kali menjelajah Pusuk Buhit dan sekitarnya. Tapi pengalaman paling menarik dan berkesan tentu saja saat pertama kali mendaki diawal tahun 2016, hanya berdua bersama teman.

Menuju Pusuk Buhit dari Kota Medan dapat ditempuh melalui 2 Rute yang kira-kira memakan waktu selama 6 jam perjalanan. Pertama, melalui jalan darat via Medan-Brastagi-Kabanjahe-Merek-Sidikalang-Panggururan. Kedua, dengan menyebrang menggunakan kapal ferry. Sebelumnya kita harus melalui Rute Medan-Siantar-Parapat, lalu menyebrang dari pelabuhan Ajibata menuju Tomok. Dari dermaga tomok, sekitar 45 menit berjalan kearah Pangururan. Karena berangkat terlalu sore (sekitar pukul 17.00), kami memilih menggunakan rute pertama.

Laju sepeda motor dipacu melintasi jalur pegunungan Tanah Karo yang berkelok dengan kadar dingin yang sungguh aduhai. Kawasan paling seram tentu saja saat memasuki Merek-Sidikalang. Jalanan tanpa lampu penerang, hutan di kiri kanan dan kabut tebal begitu setia menemani. Apalagi melintasi jalan lurus lau pondom yang berhutan lebat. Seketika isi kepala memaksa mulut untuk berkata “semoga tak mogok atau bocor ban”.

Kami tiba di panggururan sekitar Pukul 00.30 WIB. Kami memang tak segera mendaki. Sebagaimana niatan awal, menuju Pusuk Buhit adalah untuk menjelajahi tempat sejarah dan kepingan mitos di wilayah tersebut, selain tentu saja memenuhi rasa rindu untuk kembali melawan dingin dan kelelahan saat mendaki gunung. Kami memutuskan mencari tempat nge-camp di pinggiran Danau Toba yang eksotis, lebih tepatnya dibelakang persawahan milik masyarakat. Sambil mengisi perut dan merebahkan badan, malam kami habiskan dengan mengobrol ngalur ngidul seputar sejarah Batak dan Gunung Pusuk Buhit yang terkadang sedikit nakal. Bagaimana tidak, dalam diskusi saya sempat berargumen bahwa tradisi Karo jauh lebih tua dari tradisi Batak Toba (si raja batak). Namun mengapa muncul klaim bahwa dari Siraja Batak lah muncul marga-marga Karo.? 


Esok pagi kami mulai berkemas, dan bersiap mendaki Gunung Pusuk Buhit. Sebelum mendaki, tentu saja terlebih dulu mengunjungi berbagai tempat-tempat bersejarah disekitar kaki gunung. Sebut saja, Batu Hobon, Pemandian Aek Rangat, Parsaktian Raja Batak, Aek Sipitu Dai, dan Perkampungan awal siraja batak. Semua kawasan-kawasan penuh sejarah ini memang telah dikelola oleh pemerintah Kabupaten Samosir, hanya jika dikaji secara nilai ekonomis, kemasan wisata sejarah ini belum mampu berbicara banyak.

Aek Sipitu Dai
Batu Hobon
Parsaktian Raja Batak
Pendakian ke Puncak Pusuk Buhit dimulai melalui Desa Huta Ginjang, Kecamatan Sianjur mula-mula. Ada beberapa rute yang bisa dipilih untuk mendaki puncak Pusuk Buhit. Pertama, melalui jalur cepat, yakni rute yang sudah disiapkan oleh warga sekitar. Kedua, rute melalui pemandian aek rangat di Kota panggururan. Kami sengaja memilih rute ketiga, yakni melalui Desa Huta Ginjang. Alasannya karena jalur trekking lebih ‘terasa’ dan relatif aman menitipkan sepeda motor di rumah warga (sekaligus lebih bersosialisasi). Dari pintu rimba Desa Huta Ginjang, waktu menujukan sekitar pukul 15.00 WIB.

Berjalan menuju Pusuk Buhit sedikit berbeda dengan mendaki gunung lain. Hal ini barangkali disebabkan puncak Pusuk Buhit yang bisa dilihat sepanjang mata menapakkan kaki dijalur pendakian. Situasi demikian membuat pendaki sedikit sepele dengan mengatakan “ah dekat kok”. Ternyata tidak, semakin berjalan mendekat, puncak terasa semakin menjauh. Rupanya puncak Pusuk Buhit kelihatan dekat karena dipandang dari kejauhan. Sebelum sampai di puncak perbukitan, kami memutuskan untuk istrahat sejenak dibawah pohon pinus yang berdiri gagah. Kompor dikeluarkan, semua kebutuhan logistik kami siapkan untuk santap sore mengisi perut yang kosong. Maklum, jalurnya sejak “intro” sudah mendaki plus ditambah hujan gerimis dan tiupan angin membuat perut cepat terasa lapar.

Usai makan, kami kembali mendaki dan berhasil melalui puncak perbukitan pertama. Saya sempat mengira ini adalah puncak pusuk buhit, ternyata bukan. Dari jalan yang mendatar itu kami kembali menuruni sedikit lereng dan bersiap mendaki puncak berikutnya. Ya, tidak salah lagi, itulah puncak Pusuk Buhit sesungguhnya. Tepat dilokasi jalan relatif datar, banyak ditemui batu-batu keramat yang diatasnya diletakkan sesaji berupa telur, jeruk purut, bunga, rokok dll. Bahkan para petinggi-petinggi negri dan orang batak yang sudah sukses di perantauan sekali waktu masih menyempatkan diri berjiarah kesini. Jangan heran, ada Helipad di Pusuk Buhit.

Entah atas motif apa, kami mencoba mencari jalur baru (pintas) untuk menuju puncak. Niat hati cuma ingin anti mainstream. Dalam perjalanan kami menemukan sebuah batu yang diatasnya tergeletak 3 buah jeruk. Terjadi dialog singkat antara kami berdua:

Teman: “mau jeruk bang?” (sambil mengambil jeruk)
Saya: “Ngak ah
Teman: “kata orang kalo ada jeruk artinya rejeki
Saya: “yaudah, terserah sih, ambil aja. Yang penting kan niatnya gak macam-macam bang, tapi aku ngak mau ngambil”
Teman: “ah, jadi ragu aku bang” (jeruk kembali diletak kan di tempat semula)

Pasca dialog, kami kembali berjalan dengan fokus perhatian utama adalah puncak Pusuk Buhit tepat didepan. Apes, jalur yang dilalui berulang kali buntu. Bahkan ilalang yang tumbuh teramat lebat menyulitkan untuk sekedar berjalan normal. Kondisi jalan perlahan lahan semakin terjal, sedangkan kami berada ditengah ilalang yang tumbuh liar. Lebih parah, kabut tebal turun menyelimuti Gunung Pusuk Buhit, otomatis jarak pandang semakin tipis. Sekitar dua jam kami berkeliling ria dihamparan ilalang. Langit sudah mulai gelap, diskusi diantara kami akhirnya menemukan titik temu, “kembali mundur kerute awal” Ya, meskipun diselingi nada bercanda, sebab katanya mundur adalah pengkhianatan, hahaha..

Bermodal memanjat batu demi melihat jalan datar (rute awal sebelum tersesat), menembus ilalang dan jalan terjal, senjata terakhir yang dipergunakan adalah berserah diri dan mempertajam feeling. Akhirnya entah bagaimana, kami kembali ketempat batu yang diatasnya tergeletak 3 jeruk tadi. Alhamdulillah, Dalam hati saya spontan mengucap asalamualaikum, sejurus kemudian kami kembali melalui jalur normal para pendaki pada umumnya. Hari sudah gelap, di spot yang datar, kami mendirikan tenda, memasak, mengisi perut, menghisap rokok hero yang sungguh di medan tak pernah saya hisap.
Berhubung, suasana saat itu masih dalam rangka tahun baru, cukup banyak tenda-tenda berdiri di spot tersebut. Gelak tawa, suara gitar bahkan Mp3 lagu india terdengar mengalun dari tenda sebelah. Dalam percakapan sebelum istrahat, kami berharap semoga dengan mulai ramai nya manusia mendaki kemari, tidak lantas menghilangkan nuansa sakral dan nilai sejarah gunung ini. Bahwa mendaki Pusuk Buhit bukan sekedar berselfie dengan latar Danau Toba

Pusuk Buhit adalah gunung kramat yang menyimpan segudang mitos, ritual dan kepercayaan yang masih dilestarikan. Menjaga sikap dan kelakuan adalah hal mutlak. Apa yang kami alami, apakah ada hubungannya dengan cerita di malam sebelumnya (yang coba mendebat soal asal mula siraja batak)? Atau soal batu yang diatasnya terdapat jeruk tadi? Entahlah. Satu hal yang pasti, kami datang dengan niat baik, dan tak berkeinginan merusak apapun. Bahkan kalau boleh mengutuk, yang pantas dikutuk adalah Pemerintah. Mengapa tempat wisata seindah, dan sekomplit Samosir tidak kunjung berkembang dan terkesan begitu-begitu saja.





Pusuk Buhit, Mendaki Gunung Kramat Orang Batak Pusuk Buhit, Mendaki Gunung Kramat Orang Batak Reviewed by Amin Multazam on 11:16 PM Rating: 5

1 comment:

  1. Gunung Pusuk Buhit merupakan kediaman si Raja Batak, nenek moyang suku Batak

    ReplyDelete

Powered by Blogger.