Kamis, 21 Juli 2016

Opiniku: Kota Medan Dan Problemnya

Mengurai persoalan Kota Me­dan satu persatu tentu sama letihnya de­ngan menghitung bintang dilangit. Mes­­ki terkesan lebay, meniru is... thumbnail 1 summary

Mengurai persoalan Kota Me­dan satu persatu tentu sama letihnya de­ngan menghitung bintang dilangit. Mes­­ki terkesan lebay, meniru istilah anak zaman kekinian, tapi pernyataan di kalimat pembuka tadi bisa jadi ada be­­narnya. Lihat saja, mulai dari per­soa­­lan galian yang menyebabkan se­jum­lah jalan protokol berlubang bak tert­abrak meteor, sampai soal rawan ban­jir akibat sistem drainase yang am­buradul. Mulai dari soal air PAM berwarna serupa kopi, hingga listrik yang masih konsisten hidup mati. Belum lagi soal minimnya Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang memberi­kan kesan Medan sebagai kota ger­sang, maraknya praktek penggusuran yang be­rujung bentrok, aksi koboy para be­gal, darurat peredaran nar­koba, hingga soal bangunan yang di­di­rikan tanpa izin dan berada dalam la­han sengketa. Kota Medan saat ini me­mang penuh masa­lah, miskin ino­vasi bahkan boleh jadi kehilangan jati diri. Jika boleh balik bertanya, coba se­butkan prestasi kota berpenduduk 2 juta jiwa lebih.

Barangkali cukup sulit menyebut pres­tasi. Oleh sebab itu lebih baik kita kembali mengurai beberapa persoalan yang tergolong penting untuk segera dituntaskan, misalnya soal angka kriminalitas. Tingkat kriminal di Kota Medan sudah masuk dalam kategori memprihatinkan. Bayangkan, hampir setiap hari kita membaca berita soal perampokan oleh komplotan begal di ja­lanan. Aksi koboy para begal men­jadi ancaman nyata buat warga kota se­jak 2 tahun belakangan. Ke­po­lisian Re­sort Kota Medan seper­ti kesulitan dalam memberangus sindikat ini. anak Medan yang terkenal bersa­ha­bat, kini sudah tak ramah lagi. Per­edaran narkoba pun demikian, Medan me­miliki beberapa wilayah yang telah jadi rahasia umum menjadi sa­rang narkoba. BNN bersama pihak Ke­­po­lisian tidak henti mengagalkan ber­­bagai jenis narkoba yang siap di edar­kan. Teranyar, saat operasi tang­kap tangan di pool bus Makmur Jalan SM Raja pada bulan Februari lalu. Sabu seberat 25 Kilogram yang ren­ca­nanya akan disebar di penjuru Kota Medan berhasil diamankan. Data BNN menunjukkan, Medan tercatat seba­gai daerah ketiga terbesar pereda­ran narkoba.

Masalah Kota Medan yang harus seg­era diselesaikan adalah terkait tata ruang dan wilayah. Entah mengapa, Kota Medan seperti tumbuh tanpa pe­rencanaan tata ruang. Peruntukan bisa berganti secepat kilat dan sesuka hati tanpa melalui analisis kajian lingku­ngan secara mendalam. Ambil con­toh, Lokasi Jalan Jawa Kecamatan Me­dan Timur yang merupakan lahan PT KAI saat ini telah berganti perun­tu­kan­nya menjadi bangunan pusat per­­belanjaan dan gedung pencakar la­ngit. Proses persidangan hingga ting­kat MA telah memutuskan lahan ter­sebut memang milik PT KAI. Namun hingga saat ini, proses eksekusi tidak juga terealisasi. Prasyarat RTH untuk sebuah kota yang minimal 30 persen juga tidak jelas bagaimana pemenu­hanya. Bahkan ruang-ruang terbuka hi­jau seperti Lapangan Merdeka Me­dan malah berubah menjadi kawasan bis­nis. Soal jalur hijau, bukan hal aneh jika sekarang disulap menjadi pusat per­tokoan dan areal bisnis. DPRD Me­­dan yang entah atas dasar apa ber­ulang kali mengganti peruntukan jalur hi­jau menjadi ruko, hotel, rumah iba­dah, atau komplek perumahan. Wajar jika Kota ini begitu mudah di­landa banjir. Apalagi semakin di­per­parah dengan kondisi Sungai Deli yang mungkin beberapa tahun lagi be­rubah nama menjadi ‘parit busuk’ (parbus)

Sebagai kota terbesar ketiga di Indonesia, dalam aspek program, Me­dan seperti hilang dalam sorotan Media Nasional. Teramat jarang kita me­nyak­sikan program pemerintah kota menja­di konsumsi publik dalam skala Nasio­nal. Bandingkan dengan Wali­kota Su­ra­baya, Bandung atau Guber­nur DKI Jakarta yang hampir setiap pro­gram kebijakannya dijadikan re­frensi dan mendapat apresiasi baik dari kha­layak. Walikota Bandung, Ridwan Ka­mil, misalnya, melak­sa­na­kan program-program sederhana se­perti magh­rib mengaji. Dalam program ini se­tiap anak-anak diwajibkan me­ngaji ke mesjid saat waktu magh­rib tiba. Be­ri­kutnya ada program pe­mak­si­malan zakat, hinga Family Help Fa­mily. Konsep sederhana dimana ke­luar­ga-keluarga dalam kategori mam­pu menjadi keluarga asuh bagi para keluarga berkategori miskin. Pemko Bandung bertugas mendata dan mem­­ba­ngun sistem semaksimal mung­kin untuk mewujudkan berbagai pro­­gram tersebut. Di Surabaya, Wa­likota Surabaya dengan ‘nekat’ mere­lokasi kawasan prostitusi Doli yang sudah puluhan tahun tidak tersentuh. Atau lihat aksi Ahok yang merelokasi kawasan Kalijodo dengan segala kon­troversi pro dan Kontra di dalam­nya. Medan? Mengapa kita tidak mam­­­pu. Secara sederhana mungkin ini­lah bukti kalau kebijakan-kebija­kan yang mun­cul di Kota Medan mis­kin ino­vasi. Pa­dahal Medan adalah salah satu baro­meter Indonesia, kota terbe­sar diluar Pulau Jawa yang tentu ‘mu­dah’ men­da­pat perhatian ketika lahir ke­bijakan dan program yang meng­gebrak.

Kota Medan perlu gebrakan untuk be­rubah menuju kota idaman layak hu­ni. Harapan itu sempat terbesit ke­tika momentum pilkada kemarin. Ter­pi­lihnya pasangan Walikota dan Wa­kil Walikota membuka peluang lahir­nya suasana dan semangat baru dalam mem­bangun kota tercinta. Warga Me­dan menanti inovasi-inovasi kebi­ja­kan yang mampu me­nga­tasi berbagai per­soalan dasar ma­syarakat. Tidak per­lu malu belajar atau meniru bagai­mana pemimpin Kota Surabaya, Ban­dung atau bahkan DKI Jakarta me­lakukan inovasi-ino­vasi brilian dalam memper­baiki kon­disi kota. Me­mang diakui, kesuksesan ber­bagai ke­bijakan itu juga di­pe­nga­ruhi oleh ke­sadaran masyara­kat untuk ikut serta sama-sama mem­ba­ngun. Na­mun te­tap saja yang men­jadi garda ter­de­pan adalah para pemimpin kota ini. Pe­mimpin adalah contoh bagi masya­ra­kat­nya. Seluruh warga Kota Medan me­naruh harapan besar dan berke­yaki­nan, Medan belum terlam­bat untuk berubah.

Tulisan ini dimuat di kolom opini Harian Analisa Edisi 17 Mei 2016. Telah dilakukan proses editing dan mengalami perlubahan seperlunya tanpa menrubah subtansi.

Tidak ada komentar

Posting Komentar